Demam game mobile kelihatannya sudah mulai menjangkiti pengembang serta penerbit game barat. Buktinya, kita bisa melihat sendiri pada Call of Duty: Mobile, game garapan Tencent yang diterbitkan oleh Activision untuk pasar global, serta Garena di pasar Asia Tenggara.

Nama Call of Duty (CoD) tentunya sudah taka sing lagi bagi para penggemar game shooter. Waralaba stau ini sudah cukup melegenda di ranah konsol maupun PC.

Sayangnya, pamornya perlahan meredup seiring munculnya game vattle royale seperti PUBG. Melihat kesuksesan PUBG dengan versi mobilenya, gak heran publisher sekelas Activision dan Garena melakukan hal yang sama.

Namun, apakah segala yang ditawarkan di Call of Duty: Mobile ini mampu bersaing dengan kompetitornya sesama battle royae yang telah lebih dulu populer di tanah air?

Review Game Call of Duty

Jangan sampai kalia mengira bahwa game ini mengandalkan battle royale. Karena nyatanya, mode Deatchmatch lah yang justru menjadi fitur utama dari game ini.

Saat pertama kali bermain, kalian akan disuguhkan dengan mode multiplayer bernama frontline. Mode ini kurang lebih sama dengan mode utama game shooter lain seperti Counter-Strike: Global Offensive (CS:GO) atau Point Blank (PB).

Kalian akan bermain 5V5 dan diwajibkan untuk menghabiskan musuh sebanyak-banyaknya. Kemenangan juga akan tim raih jika berhasil mencapai skor 50 terlebih dulu. Jika mati, kalian akan respawn di markas.

Tak hanya frontline, masih ada beragam mode Deathmatch yang bisa kalian mainkan. Ada Team Deathmatch yang sama dengan Frontline, tapi dengan respawn secara acak. Selain itu, ada mode taktis seperti Destroy yang sama dengan mode ngebom di CS:GO atau PB.

Sementara itu, mode battle royale baru bisa kalian nikmati saat akun kalian mencapai level 8. Hal ini pun jelas menunjukkan bahwa battle royale bukan menjadi andalan utama Call of Duty: Mobile.

Rejuvenasi Tren Deathmatch

Fitur-fitur baru seperti Scorestreaks berperan membuat permainan jadi lebih atraktif. Di fitur ini, kalian bisa menggunakan “senjata tambahan” seperti UAV, Drone, hingga misil udara jika berhasil membunuh musuh secara beruntun.

Selain itu, ada juga Operator Skill. Dengan fitur ini, kalian bisa menggunakan senjata kelas berat seperti flamethrower atau gatling gun jika kalian berhasil mendapatkan banyak skor kill.

Secara keseluruhan, mode saling bunuh ini cukup sukses menghidupkan kembali euforia Team Deathmatch.

Namun, ada sedikit catatan dari mode ini. Meski pada awalnya terasa nagih, potensi jenuh pun makin lama akan terasa jika kalian terus bermain mode ini secara non-stop. Terlebih, tempo permainan Deathmatch terasa sangat cepat dibandingkan dengan battle royale.

Visual

Grafis yang ditawarkan memang terlihat fantastis. Namun, sejatinya bukan itu yang bikin game ini istimewa. Keistimewaan itu akan lebih terasa bagi penggemar setia waralaba CoD.

Map-map pada mode Deathmatch bisa dikatakan jadi adaptasi dari “saudara” tuanya. Begitu juga beberapa lokasi pada map mode battle royale yang mengambil inspirasi dari game-game lama CoD.

Perlu kalian catat, kenikmatan visual yang ditawarkan game ini tentu butuh pengorbanan. Dilansir Hutmobile, untuk mendapatkan pengalaman standar, smartphone Android kalian setidaknya dilengkapi chipset Snapdragon 625 dengan RAM 3GB dan GPU Adreno 506.

Sedangkan untuk pengalaman visual yang lebih fantastis, setidaknya gadget kalian minimal udah punya chipset sekelas Snapdragon 660 serta RAM 4GB ke atas. Memang cukup demanding, tapi sepadan dengan apa yang akan kalian dapat.

Itulah review lengkap dari game Call of Duty mobile yang sedang ramai dimainkan. Semoga artikel ini bermanfaat.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *